Menentukan Pikiran Utama Dan Pikiran Penjelas
Manusia lahir dari suatu masyarakat yang
mempunyai sejarah dan tradisi. Ia merupakan individu yang
mau tidak mau harus mewarisi seperangkat nilai-nilai tradisional.Namun kemudian dalam proses kedewasaan ia akan menghadapi suatu kenyataan yang
selalu berubah-ubah. Suatu realitas kehidupan yang
menyuguhkan tantangan baru yang
berbeda baik skala ataupun dimensinya. Disinilah individu tersebut melihat adanya nilai-nilai tradisional yang
kurang serasi atau kurang mampu menghadapi tantangan baru tersebut.
Pikiran Utama :Seorang yang harus
memegang nilai2 tradisional
Pikiran Penjelas :
ü Suatu
Proses kedewasaan dalam menghadapi suatu kenyataan
ü Realitas kehidupan
dalam tantangan baru
ü Melihat
nilai tradisional yang kurang serasi
ü Kurang
dalam menghadapi tantangan baru
Mengubah Paragraph Induktif Menjadi Pharagraph Deduktif
Bahasa Muna belum tentu dapat dipakai dengan baik
oleh seorang turunan Inggris yang lahir di Raha (Muna) yang hidup dari kecil,
dewasa, sampai tua di tempat itu. Hal ini sangat berbeda dengan bahasa Buton
dan bahasa-bahasa lain di Makasar. Bahasa-bahasa yang disebut terakhir ini dapat
dipahami dengan mudah oleh pendatang dari daerah lain serta dapat mereka
pergunakan dengan baik dalam bahasa sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa
bahasa Muna agak sukar dipelajari oleh penutur asing. (Paragagraph Induktif)
Bahasa muna kurang dimininati oleh turunan asing. Bahasa
muna belum tentu juga dapat dipakai dengan baik oleh bangsa turunan inggris
yang lahir di Raha (muna) yang hidup dari kecil ,dewasa s/d tua di tempat itu
.sangan berbeda dengan Bahasa buton dan Bahasa – Bahasa lain di makassar . Bahasa
yang di sebut terahir ini dapat dipahami dengan mudah oleh pendatang dari
daerah lain serta dapat mereka gunakan dengan baik dan benar (Paragraph Deduktif)
Memperbaiki Kalimat dibawah menjadi Efektif dan Menentukan Pola Kalimatnya
Jembatan layang itu belum selesai seperti yang
sudah direncanakan disebabkan karena dananya belum dapat dicairkan semua.
(Kalimat Sebelum Efektif)
Jembatan layang belum selesai seperti yang
sudah direncanakan karena dananya belum di cairkan semuanya (Kalimat Menjadi
Efektif)
Kalimat ini menggunakan Pola S P O K
Agar supaya Anda memperoleh nilai ujian yang
memuaskan, Anda harus belajar dengan sebaik-baiknya (Kalimat Sebelum Efektif)
Supaya anda
memperoleh nilai yang memuaskan, anda harus belajar (Kalimat Menjadi Efektif)
Kalimat Ini menggunakan Pola S P O K
Sebelum anda mengerjakan tes ini, sebaiknya berdoa
dahulu agar diberi petunjuk oleh tuhan yang maha kuasa. (kalimat Sebelum
Efektif)
Sebelum anda
mengerjakan tes, sebaiknya berdoa dahulu agar diberi petunjuk oleh tuhan yang
maha kuasa. (Kalimat Menjadi Efektif)
Kalimat ini menggunakan pola S P O K
didalam karya tulis ini mengemukakan tentang
bank yang mempunyai andil didalam masyarakat. (Kalimat Sebelum Efektif)
Didalam karya tulis ini
mengemukakan tentang bank yang mempunyai andil di dalam masyarakat. (Kalimat
Menjadi Efektif)
Kalimat ini menggunakan pola S P O
Karena data-data itu belum diproses atau masih
merupakan data mentah, jangan diberikan kepada siapa pun, termasuk wartawan.
(Kalimat Sebelum Efektif)
Karena data-data itu belum
diproses masih berupa data mentah, jangan diberikan kepada siapa pun. (Kalimat Menjadi Efektif)
Kalimat ini menggunakan pola S P O
Menentukan Pola Kalimat
Rumahku =
Subjek
Menghadap =
Predikat
Ke utara = Keterangan Tempat
Gamelan =
Subjek
Merupakan =
Predikat
Ciri kesenian Tradisional = Objek
Keputusan hakim sesuai
= Predikat
Tuntutan Jaksa = subjek
Sayur Mayur = Subjek
Didatangkan =
Predikat
Dari Bogor = K.Tempat
Lina = Subjek
Anak pak Hadi = Objek
Tersenyum manis =
Predikat
Dona =
Subjek
Memasukan bungkusan itu kedalam = Predikat
Mobil =
Objek
Pengusaha =
Subjek
Mengajak =
Predikat
Buruhnya =
Objek
Menyelesaikan masalah secara damai = Pelengkap
Negara kita =
Subjek
Berlandaskan =
Predikat
Hukum =
pelengkap
Korea Utara =
Subjek
Mematuhi seruan =
Predikat
PBB =
Objek
Para Petani =
Subjek
Menanami sawahnya =
Predikat
Dengan palawija =
Objek
Dalam musim ini =
Ket .waktu
Mahasiswa =
Subjek
Mengirimi Jaksa agung =
Predikat
Ayam betina =
Objek
Mahasiswa hokum =
Subjek
Itu berdebat =
Predikat
Bagaikan pengacara =
Pelengkap
Pentingnya Bahasa Indonesia Dalam era Teknologi
Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti tercantum pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan , bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional ; kedudukannya berada diatas bahasa – bahasa daerah.
Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.
Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.
Dalam Era Teknologi ini banyak sekali pengaruh asing,baik bahasa maupun budaya,terlebih lagi kurangnya pengetahuan dalam Berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang banyak dialami generasi muda saat ini.
Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.
Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.
Dalam Era Teknologi ini banyak sekali pengaruh asing,baik bahasa maupun budaya,terlebih lagi kurangnya pengetahuan dalam Berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang banyak dialami generasi muda saat ini.
Memperbaiki EYD yang salah
“Polisi Amankan 2 Pelajar Pembajak Bus”
JAKARTA, KOMPAS.com - Polisi mengamankan dua
pelajar berusia 16 tahun,AG dan DP, di Polres Metro Jakarta
Selatan. Keduanya diduga terlibat pembajakan Bus PPD 54
jurusan Depok - Grogol, di Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta
Selatan, Rabu (21/11/2012) pukul 16.00 WIB.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris
Besar Rikwanto, mengatakan, keduanya pelajar dari SMK di Tanjung Barat dan SMK
di Lebak Bulus.
"Mereka bersama sekitar 250 pelajar
membajak bus PPD 54 yang diawaki Arifin Situmeang (32)
dan Riyadi (38), sopir dan kernet bus tersebut," kata Rikwanto, Rabu
malam.
Menurut Rikwanto, bus dibajak mulai di
depan Halte UI di Jalan Raya Lenteng Agung, sampai di
Jalan Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Para pelajar tersebut berhamburan
dari dalam bus dan kabur ke arah Antam Jagakarsa, setelah di Jalan Bambu aparat
Polsek Pasar Minggu menghadang.
Dalam pengejaran kepada para pelajar yang kabur
tersebut, berhasil ditangkap AG dan DP. Salah seorang tertangkap
tangan dengan senjata tajam ditangannya.
Dari penangkapan keduanya, penyidik Polres
Metro Jakarta Selatan akan mengembangkan penyelidikannya, untuk menangkap
pelaku lain dan otak pelaku pembajakan bus tersebut.
Dikutip dari:http://megapolitan.kompas.com/read/2012/11/21/22260227/Polisi.Amankan.2.Pelajar.Pembajak.Bus
Tabel dibawah ini adalah table pembenaran dari
artikel diatas:
|
NO
|
Kesalahan
|
Perbaikan
|
|
1
|
AG
dan DP,
|
AG
dan DP(diubah)
|
|
2
|
Lenteng
Agung,
|
Lenteng
Agung(diubah)
|
|
3
|
Keduanya
|
mereka
berdua (diubah)
|
|
4
|
diawaki
|
dipimpin
(diubah)
|
|
5
|
mulai
|
saat
(diubah)
|
|
6
|
Salah
seorang
|
Serta
Salah seorang (diubah)
|
Penggunaan EYD yang baik dan benar
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam
Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai
dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan
unsur serapan.
A. Penggunaan EYD yang benar
pada penulisan huruf dan kata
Penggunaan Huruf Kapital
– Jabatan tidak diikuti nama orang
Dalam butir 5 Pedoman EYD dinyatakan, huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsure nama jabatan dan pangkat yang
diikuti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Contoh, Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Barat, Profesor Jalaluddin Rakhmat,
Sekretaris Jendral, Departemen Pendidikan Nasional. Jabatan tidak diikuti nama
orang tidak memakai huruf kapital. Contoh, Menurut bupati, anggaran untuk
pendidikan naik 25 % dari tahun sebelumnya.
Huruf pertama nama bangsa
Dalam butir 7 dinyatakan, huruf kapital digunakan sebagai
huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Contoh, bangsa Indonesia,
suku Sunda, bahasa Inggris.
Ditegaskan, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai bentuk dasar kata turun. Contoh : ke-Sunda-Sundaan,ke-Inggris-Inggrisan,ke-Batak-Batakan, meng Indonesiakan.Seharusnya : kesunda-sundaan, keinggris- inggrisan, kebatak-batakan, mengindonesiakan.
Ditegaskan, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai bentuk dasar kata turun. Contoh : ke-Sunda-Sundaan,ke-Inggris-Inggrisan,ke-Batak-Batakan, meng Indonesiakan.Seharusnya : kesunda-sundaan, keinggris- inggrisan, kebatak-batakan, mengindonesiakan.
Nama geografi sebagai nama jenis
Dalam butir 9 ditegaskan, huruf kapital tidak dipakai
sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Contoh, berlayar ke teluk, mandi di kali, menyebrangi selat,
pergi ke arah tenggara, kacang bogor, salak bali,
pisang ambon, pepaya bangkok, nanas subang, tahu sumedang, peuyeum
bandung dan telur brebes.
Setiap unsur bentuk ulang sempurna
Dalam butir 11 dinyatakan, huruf kapital dipakai sebagai
huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan
lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Contoh,
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial,
Yayasan Ahli-Ahli Bedah Plastik Jawa
Barat, Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia, Garis-Garis Besar Haluan Negara.
Penulisan kata depan dan kata sambung
Dalam butir 12 dinyatakan, huruf kapital dipakai sebagai
huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan
kecuali kata sepertidi, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang
tidak terletak pada posisi awal. Biasanya dipakai pada penulisan judul cerpen,
novel. Contoh, Harimau Tua dan Ayam Centil,Hari-Hari
Penantian dalam Gua Neraka, Kado untuk Setan, Taksi yang Menghilang.
2. Penulisan Huruf Miring
Penulisan nama buku
Pada butir 1 pedoman penulisan huruf miring ditegaskan,
huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan
surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh, Buku Jurnalistik
Indonesia, Majalah Sunda Mangle, Surat Kabar Bandung Pos.
Penulisan penegasan kata dan penulisan bahasa asing
Butir 2 pedoman penulisan huruf miring menyatakan, huruf
miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian
kata, kata, atau kelompok kata.
Contoh, boat modeling, aeromodeling, motorsport.
Penulisan kata ilmiah
Butir 3 pedoman penulisan huruf miring menegaskan, huruf
miring dan cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah dan ungkapan asing
kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Contoh, royal-purple amethyst,
crysacola, turqoisa, rhizopoda, lactobacillus, dsb.
3. Penulisan Kata Turunan
Gabungan kata dapat awalan akhiran
Butir 3 pedoman kata turunan menegaskan, jika bentuk dasar
yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan
kata itu ditulis serangkai. Contoh, bertepuk tangan, garis bawahi,
dilipatgandakan, sebar luaskan.
Gabungan kata dalam kombinasi
Butir 4 pedoman penulisan kata turunan menyatakan, jika
salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu
ditulis serangkai. Contoh, antarkota, antarsiswa, antipornografi,
antikekerasan, anti-Amerika, audiovisual, demoralisasi, dwiwarna,
dwibahasa, ekasila, ekstrakulikuler, interkoneksi, intrakampus,
multifungsi, pramuwisma, tunakarya, tunarungu, prasejarah,
pascapanen, tridaya, rekondisi.
4. Penulisan Gabungan
Kata
Penulisan gabungan kata istilah khusus
Butir 2 pedoman penulisan gabungan kata mengingatkan,
gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan
pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di
antara unsur yang bersangkutan. Contoh; alat pandang- dengar,
anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami.
Penulisan gabungan kata serangkai
Butir 3 pedoman penulisan gabungan kata menegaskan, gabungan
kata berikut harus ditulis serangkai. Contoh, acapkali, adakalanya,
akhirulkalam, daripada, darmawisata, belasungkawa, dukacita,
kacamata, kasatmata, manakala, manasuka, matahari, olahraga, padahal,
peribahasa, radioaktif, saptamarga, saripati, sediakala, segitiga,
sekalipun, sukacita, sukarela, sukaria, titimangsa.
B. Penggunaan EYD yang benar
pada partikel, singkatan, akronim, dan angka.
1. PENULISAN PARTIKEL
Penulisan partikel -lah, -kah,
dan –tah Pedoman EYD menetapkan ketentuan pertama menyatakan partikel
-lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh: bacalah, tidurlah, apakah, siapakah, apatah.
a. Penulisan partikel pun
Butir 2 tentang penulisan partikel mengingatkan,
partikel pun dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya.
b. Penulisan
partikel per
Butir 3 tentang penulisan partikel menyebutkan,
pertikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari
bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
2. PENULISAN SINGKATAN
Pedoman EYD menegaskan, singkatan ialah bentuk yang
dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Singkatan nama resmi
lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama
dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital
dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Penulisan singkatan umum tiga huruf
Pedoman EYD mengingatkan, singkatan umum yang terdiri
atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Kaidah bahasa jurnalistik
dengan tegas melarang pemakaian singkatan umum seperti ini dalam setiap karya
jurnalistik seperti tajuk renacana, pojok, artikel, kolom, surat pembaca,
berita, teks foto, feature. Bahasa jurnalistik juga dengan tegas melarang
penggunaan singkatan jenis ini dalam judul tajuk, artikel, surat pembaca, atau
judul-judul berita.
Penulisan singkatan mata uang
Pedoman EYD menegaskan, lambang kimia, singkatan satuan
ukuran , takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
3. PENULISAN AKRONIM
Menurut Pedoman EYD, akronim ialah singkatan yang
berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku
kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
Pertama, akronim nama diri berupa gabunga suku
kata. Kedua, akronim yang bukan nama diri berupa gabungan huruf.
Akronim nama diri
Pedoman EYD menyatakan, akronim nama diri yag berupa
gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis
dengan huruf awal huruf kapital.
Akronim bukan nama diri
Menurut Pedoman EYD, akronim yang bukan nama diri yang
berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari
deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Sebagai catatan, Pedoman EYD mengingatkan, jika
dianggap perlu membentuk akronim, maka harus diperhatikan dua syarat
Pertama, jumlah suku akronim jangan melebihi jumlah suku
kata yang lazim pada kata Indonesia.
Kedua, akronim dibentuk yang sesuai dengan mengindahkan
keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia
yang lazim
4. PENULISAN ANGKA
Pedoman EYD menetapkan empat jenis penulisan angka,
Pertama, angka dipakai untuk menyatakan lambing
bilangan atau nomor. Dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka
Romawi.
Kedua, angka digunakan untuk menyatakan :
(1) ukuran panjang, berat, luas, dan isi,
(2) satuan waktu,
(3) nilai uang, dan
(4) kuanitas.
Ketiga, angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor
jalan, rumah, aparteman, atau kamar pada alamat.
Keempat, angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan
dan ayat kitab suci.
5. PENULISAN LAMBANG
BILANGAN
Dari delapan jenis penulisan bilangan yang diatur
dalam Pedoman EYD, empat diantaranya perlu dibahas disini. Ini mengingat
apa yang dibolehkan dalamPedoman EYD, belum tentu dibolehkan pula dalam bahsa
jurnalistik.
a. Penulisan lambang
bilangan satu-dua kata
Pedoman EYD menetapkan, penulisan lambang bilangan yang
dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika
beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan
pemaparan.
b. Penulisan lambang
bilangan awal kalimat
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat
dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
c. Penulisan
lambang bilangan utuh
Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja
sebagian supaya lebih mudah dibaca. Ketentuan dalam Pedoman EYD ini
sangat sejalan dengan kaidah bahasa jurnalistik yang senantiasa menuntut
kesederhanaan dan kemudahan.
d. Penulisan lambang
bilangan angka-huruf
Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf
sekaligus dalam teks kecuali didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
(ash3).com
C. Penggunaan Tanda Baca
Tanda Titik (. )
a. Tanda titik dipakai
pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya: Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Misalnya: A. S. Kramawijaya
Muh. Yamin
Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan,
pangkat, dan sapaan
Misalnya: Bc.
Hk. (Bakalaureat
Hukum)
Dr. (Doktor)
Dr. (Doktor)
Tanda Koma ( , )
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu
pemerincian atau pembilangan.
Misalnya: Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Satu, dua, . . . tiga!
Satu, dua, . . . tiga!
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu
dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh
kata tetapi dan melainkan.
Misalnya: Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
Tanda Titik Koma (; )
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagianbagian
kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya: Malam makin larut; kami belum selesai juga.
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang
setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja
di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik
mendengarkan siaran pilihan pendengar.
Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap
bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnva: Yang kita perlukan sekarang ialah barang yang
berikut: kursi, meja, dan lemari.
Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonorni Umum dan Ekonomi Perusahaan.
Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonorni Umum dan Ekonomi Perusahaan.
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang
memerlukan pemerian.
Misalnya: a.
Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : S. Handayani
Bendahara : B. Hartawan
Sekretaris : S. Handayani
Bendahara : B. Hartawan
b. Tempat sidang : Ruang 104
Pengantar Acara : Bambang S.
Hari : Senin
Jam : 9.30 pagi
Pengantar Acara : Bambang S.
Hari : Senin
Jam : 9.30 pagi
Tanda Hubung ( – )
Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah
oleh pergantian baris.
Misalnya:
…ada cara ba-ru juga.
Suku kata yang terdiri atas satu huruf tidak dipenggal
supaya jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris.
Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di
belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada
Misalnya:
.. . cara baru meng-ukur panas.
… cara baru me-ngukur kelapa.
… alat pertahan-an yang baru.
Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat
satu huruf saja pada pangkal baris.
Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya: anak-anak
berulang-ulang
dibolak-balikkan
kemerah-merahan
Tanda ulang (2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan
notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
Tanda Pisah ( – )
Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang
memberi penjelasan
khusus di luar bangun kalimat.
khusus di luar bangun kalimat.
Misalnya: Kemerdekaan bangsa itu -saya yakin akan tercapai-
diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
Tanda pisah menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang
lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya: Rangkaian penemuan ini-evolusi, teori kenisbisan,
dan kini juga pembedahan atom- tidak mengubah konsepsi kita tentang alam
semesta.
Tanda Elipsis ( … )
Tanda elipsis menggambarkan kalimat yang terputus-putus.
Misalnya: Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak.
Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada
bagian yang dihilangkan.
Misalnya: Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih
lanjut.
Tanda Tanya ( ? )
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya
Misalnya: Kapan ia berangkat?
Saudara tahu bukan?
Misalnya: Kapan ia berangkat?
Saudara tahu bukan?
Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan
bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya: la dilahirkan pada tahun 1683 (?).
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang
berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
Misalnya: Alangkah seramnya peristiwa itu!
Bersihkan kamar ini sekarang juga!
Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak- istrinya!
Merdeka!
Bersihkan kamar ini sekarang juga!
Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak- istrinya!
Merdeka!
Tanda Kurung ( )
Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya: DIP (Daftar Isian Proyek) kantor itu sudah
selesai.
Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan
bagian integral pokok pembicaraan.
Misalnya: Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama
tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962
Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu
seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup
saja.
Misalnya: Faktor-faktor produksi menyangkut masalah
berikut:
(a) alam,
(b) tenaga kerja, dan
(c) modal.
(a) alam,
(b) tenaga kerja, dan
(c) modal.
Faktor-faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b)
tenaga kerja, dan (c) modal.
Tanda Kurung Siku ([… ])
Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis
orang lain. Tanda itu jadi isyarat bahwa kesalahan itu memang terdapat di dalam
naskah asal.
Misalnya: Sang Sapurba men[d] engar bunyi gemerisik.
Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas
yang sudah bertanda kurung.
Misalnya: (Perbedaan antara dua macam proses ini [lihat
BabI] tidak dibicarakan.)
Tanda Petik (“… “)
Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu
ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
Misalnya: “Sudah siap?” tanya Awal.
“Saya belum siap,” seru Mira, “tunggu sebentar!”
“Saya belum siap,” seru Mira, “tunggu sebentar!”
Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku,
apabila dipakai dalam kalimat.
Misalnya: Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari
Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
Tanda Petik Tunggal ( ‘ … ‘ )
Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam
petikan lain.
Misalnya: Tanya Basri, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’
tadi?”
“Waktu kubuka pintu kamar depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’,
dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
“Waktu kubuka pintu kamar depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’,
dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata
atau ungkapan asing (Lihat pemakaian tanada kurung)
Misalnya: rate of
inflation ’laju inflasi’
Tanda Ulang ( …2 ) (angka 2 biasa)
Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula
untuk menyatakan pengulangan kata dasar.
Misalnya: kata2
lebih2
sekali2
lebih2
sekali2
Tanda Garis Miring ( / )
Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
Misalnya: No. 7/PK/1973
Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau,
per, atau nomor alamat.
Misalnya: mahasiswa/mahasiswi
harganya Rp 15,00/lembar
Jalan Daksinapati IV/3
harganya Rp 15,00/lembar
Jalan Daksinapati IV/3
Tanda Penyingkat (Apostrof) ( ‘ )
Tanda apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata.
Misalnya: Ali ‘kan
kusurati (‘kan = akan) Malam
‘lah tiba (‘lah = telah)
Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari
berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing.
Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjamam dalam bahasa Indonesia dapat
dibagi atas dua golongan besar. Pertama unsur pinjaman yang belum sepenuhnya
terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shuttle cock, reshuffle.
Unsur-unsur tersebut di pakai dalam konteks bahasa Indonesia tetapi
pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yamg penulisan
dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini
diusahakan agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih
dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Keragaman Bahasa Indonesia dari beberapa unsur/segi
Ragam
Bahasa
Ragam
bahasa atau variasi bahasa adalah bentuk
atau wujud bahasa yang ditandai oleh ciri-ciri linguistik tertentu, seperti
fonologi, morfologi, dan sintaksis. Di samping ditandai oleh ciri-ciri
linguistik, timbulnya ragam bahasa juga ditandai oleh cirri-ciri nonlinguistic,
misalnya, lokasi atau tempat penggunaannya, lingkungan sosial pemakaiannya, dan
lingkungan keprofesian pemakai bahasa yang bersangkutan.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa
sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia,
timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku.
Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.
timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku.
Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.
Macam-Macam Ragam Bahasa Indonesia
1. Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media
Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku
Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang sering
disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baku bahasa
Indonesia, memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan
tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia,
bukan otoritas lembaga atau instansi didalam menggunakan bahasa Indonesia ragam
baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau
ragam akrab. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan digunakannya kosa
kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu
makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum,
tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku
agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Perlu
diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan
latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik
pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980). Ragam bahasa Indonesia
berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu :
a) Ragam bahasa lisan
Adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui
media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat
membantu pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian.
Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan
dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam
kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan
dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung
di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan
lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan
pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa
lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis,
tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk
tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan
ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa
serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Ciri-ciri ragam lisan :
1 - Memerlukan
orang kedua/teman bicara;
2 - Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
-Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
- Berlangsung
cepat;
- Sering
dapat berlangsung tanpa alat bantu;
- Kesalahan
dapat langsung dikoreksi;
-Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
Yang termasuk dalam ragam
lisan diantaranya pidato, ceramah, sambutan, berbincang-bincang, dan masih
banyak lagi. Semua itu sering digunakan kebanyakan orang dalam kehidupan
sehari-hari, terutama ngobrol atau berbincang-bincang, karena tidak diikat oleh
aturan-aturan atau cara penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.
b) Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis
adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai
unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara
penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain
dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa
seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran
penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat,
karya ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahsa tulis perlu memperhatikan
ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan
karya-karya ilmiah.
Ciri Ragam Bahasa Tulis :
1
Tidak memerlukan
kehadiran orang lain.
2 Tidak terikat ruang dan waktu
3. Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat
4. Pembentukan kata dilakukan secara sempurna,
5. Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap,
dan
6. Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu.
7. Berlangsung lambat
8. Memerlukan alat bantu
2. Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur
a. Ragam Bahasa Berdasarkan Daerah (logat/diolek)
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan
perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang
tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa
Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang
berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada
pelafalan “b” pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor,
Bandung, Banyuwangi, dan lain-lain. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak
pada pelafalan “t” seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.
b. Ragam Bahasa berdasarkan Pendidikan Penutur
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok
penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama
dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah,
kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan
mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas.
Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya
membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun
sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
c. Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap
penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa
(jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan
kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap
tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas
ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara
atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku.
Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi
tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat
keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
Bahasa baku dipakai dalam :
1. Pembicaraan di muka umum, misalnya pidato
kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran.
2. Pembicaraan dengan orang yang dihormati,
misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat.
3. Komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat
lamaran pekerjaan, undang-undang.
4. Wacana teknis, misalnya laporan penelitian,
makalah, tesis, disertasi.
3. Ragam Bahasa menurut Pokok Pesoalan atau
Bidang Pemakaian
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok
persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang
berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa
yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan
dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam
lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan
ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang
digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan
istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau
penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam
bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang
digunakan dalam bidang agama. Koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam
bidang kedokteran. Improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam
lingkungan seni. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok
persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan
kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah,
kalimat-kalimat dalam koran atau majalah dan lain-lain.
Langganan:
Postingan (Atom)

0 komentar