• Pentingnya Bahasa Indonesia Dalam era Teknologi

    Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti tercantum pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan , bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai  bahasa nasional ; kedudukannya berada diatas bahasa – bahasa daerah. 

    Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.

    Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
    Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.

    Dalam Era Teknologi ini banyak sekali pengaruh asing,baik bahasa maupun budaya,terlebih lagi kurangnya pengetahuan dalam Berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang banyak dialami generasi muda saat ini. 

    0 komentar

  • Memperbaiki EYD yang salah

    “Polisi Amankan 2 Pelajar Pembajak Bus” 
    JAKARTA, KOMPAS.com - Polisi mengamankan dua pelajar berusia 16 tahun,AG dan DP, di Polres Metro Jakarta Selatan. Keduanya diduga terlibat pembajakan Bus PPD 54 jurusan Depok - Grogol, di Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (21/11/2012) pukul 16.00 WIB.
    Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan, keduanya pelajar dari SMK di Tanjung Barat dan SMK di Lebak Bulus.
    "Mereka bersama sekitar 250 pelajar membajak bus PPD 54 yang diawaki Arifin Situmeang (32) dan Riyadi (38), sopir dan kernet bus tersebut," kata Rikwanto, Rabu malam.
    Menurut Rikwanto, bus dibajak mulai di depan Halte UI di Jalan Raya Lenteng Agung, sampai di Jalan Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Para pelajar tersebut berhamburan dari dalam bus dan kabur ke arah Antam Jagakarsa, setelah di Jalan Bambu aparat Polsek Pasar Minggu menghadang.
    Dalam pengejaran kepada para pelajar yang kabur tersebut, berhasil ditangkap AG dan DP. Salah seorang tertangkap tangan dengan senjata tajam ditangannya.
    Dari penangkapan keduanya, penyidik Polres Metro Jakarta Selatan akan mengembangkan penyelidikannya, untuk menangkap pelaku lain dan otak pelaku pembajakan bus tersebut.
    Tabel dibawah ini adalah table pembenaran dari artikel diatas:
    NO
    Kesalahan
    Perbaikan
    1
    AG dan DP,
    AG dan DP(diubah)
    2
    Lenteng Agung,
    Lenteng Agung(diubah)
    3
    Keduanya
    mereka berdua (diubah)
    4
    diawaki
    dipimpin (diubah)
    5
    mulai
    saat (diubah)
    6
    Salah seorang
    Serta Salah seorang (diubah)


    0 komentar

  • Penggunaan EYD yang baik dan benar

    EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan.
    A.     Penggunaan EYD yang benar pada penulisan huruf dan kata
    Penggunaan Huruf Kapital
    – Jabatan tidak diikuti nama orang
    Dalam butir 5 Pedoman EYD dinyatakan, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsure nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Contoh, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Barat, Profesor Jalaluddin Rakhmat, Sekretaris Jendral, Departemen Pendidikan Nasional. Jabatan tidak diikuti nama orang tidak memakai huruf kapital. Contoh, Menurut bupati, anggaran untuk pendidikan naik 25 % dari tahun sebelumnya.
    Huruf pertama nama bangsa
    Dalam butir 7 dinyatakan, huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Contoh, bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris.
    Ditegaskan, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai bentuk dasar kata turun. Contoh : ke-Sunda-Sundaan,ke-Inggris-Inggrisan,ke-Batak-Batakan, meng Indonesiakan.Seharusnya : kesunda-sundaan, keinggris- inggrisan, kebatak-batakan, mengindonesiakan.
    Nama geografi sebagai nama jenis
    Dalam butir 9 ditegaskan, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Contoh, berlayar ke teluk, mandi di kali, menyebrangi selat, pergi ke arah tenggara, kacang bogor, salak bali, pisang ambon, pepaya bangkok, nanas subang, tahu sumedang, peuyeum bandung dan telur brebes.
    Setiap unsur bentuk ulang sempurna
    Dalam butir 11 dinyatakan, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Contoh, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Yayasan Ahli-Ahli Bedah Plastik Jawa Barat, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Garis-Garis Besar Haluan Negara.
    Penulisan kata depan dan kata sambung
    Dalam butir 12 dinyatakan, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata sepertidi, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Biasanya dipakai pada penulisan judul cerpen, novel. Contoh, Harimau Tua dan Ayam Centil,Hari-Hari Penantian dalam Gua  Neraka, Kado untuk Setan, Taksi yang Menghilang.
    2.      Penulisan Huruf Miring
    Penulisan nama buku
    Pada butir 1 pedoman penulisan huruf miring ditegaskan, huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh, Buku Jurnalistik Indonesia, Majalah Sunda Mangle, Surat Kabar Bandung Pos.
    Penulisan penegasan kata dan penulisan bahasa asing
    Butir 2 pedoman penulisan huruf miring menyatakan, huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
    Contoh, boat modeling, aeromodeling, motorsport.
    Penulisan kata ilmiah
    Butir 3 pedoman penulisan huruf miring menegaskan, huruf miring dan cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah dan ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Contoh, royal-purple amethyst, crysacola, turqoisa, rhizopoda, lactobacillus, dsb.
    3.      Penulisan Kata Turunan
    Gabungan kata dapat awalan akhiran
    Butir 3 pedoman kata turunan menegaskan, jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. Contoh, bertepuk tangan, garis bawahi, dilipatgandakan, sebar luaskan.
    Gabungan kata dalam kombinasi
    Butir 4 pedoman penulisan kata turunan menyatakan, jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Contoh, antarkota, antarsiswa, antipornografi, antikekerasan, anti-Amerika, audiovisual, demoralisasi, dwiwarna, dwibahasa, ekasila, ekstrakulikuler, interkoneksi, intrakampus, multifungsi, pramuwisma, tunakarya, tunarungu, prasejarah, pascapanen, tridaya, rekondisi.
    4.      Penulisan Gabungan Kata
    Penulisan gabungan kata istilah khusus
    Butir 2 pedoman penulisan gabungan kata mengingatkan, gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan. Contoh; alat pandang- dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami.
     Penulisan gabungan kata serangkai
    Butir 3 pedoman penulisan gabungan kata menegaskan, gabungan kata berikut harus ditulis serangkai. Contoh, acapkali, adakalanya, akhirulkalam, daripada, darmawisata, belasungkawa, dukacita, kacamata, kasatmata, manakala, manasuka, matahari, olahraga, padahal, peribahasa, radioaktif, saptamarga, saripati, sediakala, segitiga, sekalipun, sukacita, sukarela, sukaria, titimangsa.
    B.     Penggunaan EYD yang benar pada partikel, singkatan, akronim, dan angka.
    1.      PENULISAN PARTIKEL
    Penulisan partikel -lah, -kah, dan –tah Pedoman EYD menetapkan ketentuan pertama menyatakan partikel -lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Contoh: bacalah, tidurlah, apakah,  siapakah, apatah.
    a.      Penulisan partikel pun
    Butir 2 tentang penulisan partikel mengingatkan, partikel pun dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya.
    b.      Penulisan partikel per
    Butir 3 tentang penulisan partikel menyebutkan, pertikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
    2.      PENULISAN SINGKATAN
    Pedoman EYD menegaskan, singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
    Penulisan singkatan umum tiga huruf
    Pedoman EYD mengingatkan, singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Kaidah bahasa jurnalistik dengan tegas melarang pemakaian singkatan umum seperti ini dalam setiap karya jurnalistik seperti tajuk renacana, pojok, artikel, kolom, surat pembaca, berita, teks foto, feature. Bahasa jurnalistik juga dengan tegas melarang penggunaan singkatan jenis ini dalam judul tajuk, artikel, surat pembaca, atau judul-judul berita.
    Penulisan singkatan mata uang
    Pedoman EYD menegaskan, lambang kimia, singkatan satuan ukuran , takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
    3.      PENULISAN AKRONIM
    Menurut Pedoman EYD, akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
    Pertama, akronim nama diri berupa gabunga suku kata. Kedua, akronim yang bukan nama diri berupa gabungan huruf.
    Akronim nama diri
    Pedoman EYD menyatakan, akronim nama diri yag berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
    Akronim bukan nama diri
    Menurut Pedoman EYD, akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
    Sebagai catatan, Pedoman EYD mengingatkan, jika dianggap perlu membentuk akronim, maka harus diperhatikan dua syarat
    Pertama, jumlah suku akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia.
    Kedua, akronim dibentuk yang sesuai dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim
    4.      PENULISAN ANGKA
    Pedoman EYD menetapkan empat jenis penulisan angka,
    Pertama, angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan atau nomor. Dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
    Kedua, angka digunakan untuk menyatakan :
    (1) ukuran panjang, berat, luas, dan isi,
    (2) satuan waktu,
    (3) nilai uang, dan
    (4) kuanitas.
    Ketiga, angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, aparteman, atau kamar pada alamat.
    Keempat, angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
    5.      PENULISAN LAMBANG BILANGAN
    Dari delapan jenis penulisan bilangan yang diatur dalam Pedoman EYD, empat diantaranya perlu dibahas disini. Ini mengingat apa yang dibolehkan dalamPedoman EYD, belum tentu dibolehkan pula dalam bahsa jurnalistik.
    a.      Penulisan lambang bilangan satu-dua kata
    Pedoman EYD menetapkan, penulisan lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
    b.      Penulisan lambang bilangan awal kalimat
    Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
    c.       Penulisan lambang bilangan utuh
    Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Ketentuan dalam Pedoman EYD ini sangat sejalan dengan kaidah bahasa jurnalistik yang senantiasa menuntut kesederhanaan dan kemudahan.
    d.      Penulisan lambang bilangan angka-huruf
    Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. (ash3).com
    C.     Penggunaan Tanda Baca
    Tanda Titik (. )
    a.      Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
    Misalnya: Ayahku tinggal di Solo.
    Biarlah mereka duduk di sana.
    Dia menanyakan siapa yang akan datang.
    Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
    Misalnya:  A. S. Kramawijaya
    Muh. Yamin
    Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan
    Misalnya: Bc. Hk.              (Bakalaureat Hukum)
    Dr.                   (Doktor)
    Tanda Koma ( , )
    Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
    Misalnya: Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
    Satu, dua, . . . tiga!
    Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi dan melainkan.
    Misalnya:  Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
    Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
    Tanda Titik Koma (; )
    Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian­bagian kalimat yang sejenis dan setara.
    Misalnya: Malam makin larut; kami belum selesai juga.
    Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
    Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.
    Tanda Titik Dua ( : )
    Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
    Misalnva: Yang kita perlukan sekarang ialah barang yang berikut: kursi, meja, dan lemari.
    Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonorni Umum dan Ekonomi Perusahaan.
    Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
    Misalnya:    a.  Ketua      : Ahmad Wijaya
    Sekretaris : S. Handayani
    Bendahara : B. Hartawan
    b. Tempat sidang    : Ruang 104
    Pengantar Acara : Bambang S.
    Hari                  : Senin
    Jam                  : 9.30 pagi
    Tanda Hubung ( – )
    Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
    Misalnya:
    …ada cara ba­-ru juga.
    Suku kata yang terdiri atas satu huruf tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris.
    Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada
    Misalnya:
    .. . cara baru meng­-ukur panas.
    … cara baru me-ngukur kelapa.
    … alat pertahan­-an yang baru.
    Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.
    Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
    Misalnya:  anak-anak
    berulang-ulang
    dibolak-balikkan
    kemerah-merahan
    Tanda ulang (2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
    Tanda Pisah ( – )
    Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan
    khusus di luar bangun kalimat. 
    Misalnya: Kemerdekaan bangsa itu -saya yakin akan tercapai- diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
    Tanda pisah menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
    Misalnya: Rangkaian penemuan ini-evolusi, teori kenisbisan, dan kini juga pembedahan atom- tidak men­gubah konsepsi kita tentang alam semesta.
    Tanda Elipsis ( … )
    Tanda elipsis menggambarkan kalimat yang terputus-putus.
    Misalnya: Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak.
    Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan.
    Misalnya: Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
    Tanda Tanya ( ? )
    Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya
    Misalnya: Kapan ia berangkat?
    Saudara tahu bukan?
    Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
    Misalnya: la dilahirkan pada tahun 1683 (?).
    Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
    Tanda Seru (!)
    Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
    Misalnya: Alangkah seramnya peristiwa itu!
    Bersihkan kamar ini sekarang juga!
    Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak- istrinya!
    Merdeka!
    Tanda Kurung (   ) 
    Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
    Misalnya: DIP (Daftar Isian Proyek) kantor itu sudah selesai.
    Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
    Misalnya:  Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962
    Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
    Misalnya:  Faktor-faktor produksi menyangkut masalah berikut:
    (a) alam,
    (b) tenaga kerja, dan
    (c) modal.
    Faktor-faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
    Tanda Kurung Siku ([… ])
    Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu jadi isyarat bahwa kesalahan itu memang terdapat di dalam naskah asal.
    Misalnya: Sang Sapurba men[d] engar bunyi gemerisik.
    Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
    Misalnya: (Perbedaan antara dua macam proses ini [lihat BabI] tidak dibicarakan.)
    Tanda Petik (“… “)
    Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
    Misalnya:  “Sudah siap?” tanya Awal.
    “Saya belum siap,” seru Mira, “tunggu sebentar!”
    Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
    Misalnya:  Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
    Tanda Petik Tunggal ( ‘ … ‘ )
    Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
    Misalnya:  Tanya Basri, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
    “Waktu kubuka pintu kamar depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’,
    dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
    Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing (Lihat pemakaian tanada kurung)
    Misalnya:  rate of inflation          ’laju inflasi’

    Tanda Ulang ( …2 ) (angka 2 biasa)
    Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata dasar.
    Misalnya:  kata2
    lebih2
    sekali2
    Tanda Garis Miring ( / )
    Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
    Misalnya: No. 7/PK/1973
    Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat.
    Misalnya:  mahasiswa/mahasiswi
    harganya Rp 15,00/lembar
    Jalan Daksinapati IV/3 
    Tanda Penyingkat (Apostrof) ( ‘ )
    Tanda apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata.
    Misalnya:  Ali ‘kan kusurati        (‘kan = akan)  Malam ‘lah tiba        (‘lah = telah)
    Penulisan Unsur Serapan
    Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjamam dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shuttle cock, reshuffle. Unsur-unsur tersebut di pakai dalam konteks bahasa Indonesia tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yamg penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.


                         http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Yang_Disempurnakan

    0 komentar

  • Keragaman Bahasa Indonesia dari beberapa unsur/segi

    Ragam Bahasa
     Ragam bahasa  atau variasi bahasa adalah bentuk atau wujud bahasa yang ditandai oleh ciri-ciri linguistik tertentu, seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis. Di samping ditandai oleh ciri-ciri linguistik, timbulnya ragam bahasa juga ditandai oleh cirri-ciri nonlinguistic, misalnya, lokasi atau tempat penggunaannya, lingkungan sosial pemakaiannya, dan lingkungan keprofesian pemakai bahasa yang bersangkutan.
    Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia,
    timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku.
    Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.

    Macam-Macam Ragam Bahasa Indonesia

    1.    Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media

    Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang sering disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baku bahasa Indonesia, memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi didalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
    Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980). Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu :
              a) Ragam bahasa lisan
    Adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Ciri-ciri ragam lisan :
    1    -  Memerlukan orang kedua/teman bicara;
    2    - Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
          -Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
                - Berlangsung cepat;
                -  Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
                - Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
         -Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
        Yang termasuk dalam ragam lisan diantaranya pidato, ceramah, sambutan, berbincang-bincang, dan masih banyak lagi. Semua itu sering digunakan kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari, terutama ngobrol atau berbincang-bincang, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.
         b) Ragam bahasa tulis
          Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
    Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahsa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.
    Ciri Ragam Bahasa Tulis :
    1       Tidak memerlukan kehadiran orang lain.
    2       Tidak terikat ruang dan waktu
    3.      Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat
    4.       Pembentukan kata dilakukan secara sempurna,
    5.      Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap, dan
    6.      Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu.
    7.      Berlangsung lambat
    8.      Memerlukan alat bantu


    2.      Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur

    a.       Ragam Bahasa Berdasarkan Daerah (logat/diolek)
    Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan “b” pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dan lain-lain. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan “t” seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.
    b.      Ragam Bahasa berdasarkan Pendidikan Penutur
    Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
    c.       Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
    Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
    Bahasa baku dipakai dalam :
    1.        Pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran.
    2.        Pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat.
    3.        Komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang.
    4.        Wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.

    3.      Ragam Bahasa menurut Pokok Pesoalan atau Bidang Pemakaian

    Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
    Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama. Koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran. Improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran atau majalah dan lain-lain.

                       http://id.wikipedia.org/wiki/Ragam_bahasa

                      










    0 komentar

  • Copyright © - Everything Is last - Everything Is last - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan